Udin dan Mikrolet
Jakarta adalah kota Metropolitan, begitu orang menyebutnya. Adalah tempat bagi banyak orang dari seluruh peloksok negeri Indonesia tercinta ini sebagai tempat mencari nafkah. Begitu juga Udin seorang sopir mikrolet, kurangnya setoran bagi para sopir sudah menjadi fenomena biasa seiring dengan kenaikan BBM yang terus melejit. Tetapi tekad udin tidaklah surut, karena itulah profesinya saat ini, udin hanya bisa berpikir bahwa Rezeki diatur oleh Allah SWT, menjadikan udin tetap gigih untuk selalu memenuhi setoran. Bagaimana tidak, setelah sholat ashar udin melepasakan kegalauan hatinya, ia merenung bahwa uang setoran yang merupakan kewajibannya sudahlah cukup, tetapi uang yang untuk dibawa pulang hanyalah lima ribu rupiah saja untuk beli lauk pauk dan beras sangatlah kurang. Ia bimbang, bila diteruskan mencari penumpang resikonya ia harus membeli BBM lagi yang berakibat akan mengurangi setorannya, bila ia langsung pulang kerumah khawatir anak istrinya tidak makan apa-apa. Dalam perenungannya ia teringat ucapan ustadznya dikampung bahwa Rizki itu datangnya tidaklah disangka-sangka dan jumlahnya-pun tidak dapat dihitung (QS Ath-Thalaq : 3, Al-Baqoroh : 212), “Apabila kamu bertaqwa, Allah SWT akan memberikan jalan keluar agimu”, ia sangat terharu mengingat ucapan ustadznya ini, ucapan inilah yang menjadi pegangan hidup disaat ia meninggalkan kampungnya. Setiap ia mengingat ucapan ini, selalu menimbulkan semangat bekerja yang luar biasa. Setelah selesai merenung, ia berdo’a : “Ya Allah permudahkanlah aku dalam mendapatkan rezeki yang halal, baik dan berkah, segerakan rezeki itu kepadaku, Ya Allah engkaulah sebaik-baik pengabul semua doa”. Kemudian udin berkemas dan menjalankan mikroletnya menembus hujan rintik-rintik dipetang hari itu. Tidak seberapa jauh, udin mendapati mobil Togar rekan seprofesinya, kemudian udian berhenti didepan mobil togar dan menanyakan keadaan mobil togar yang ternyata ada kerusakan mesin, udinpun dengan sigap membantu memperbaiki mobil togar, namun sudah distater beberapa kali mobil itu tidak mau hidup juga, akhirnya togar nyerah dan langsung menyerahkan penumpang mikroletnya kepada udin tentunya dengan perhitungan yang disepakati. Udin tiada henti-hentinya mengucap syukur dan memuji-muji Allah SWT.
Kajian IQ, tentang tidak cukupnya uang lima ribu rupiah menunjukan logika udin berjalan dengan baik, sebab banyak juga sopir yang masa bodoh terhadap nilai rupiah yang dibawa pulang dengan alasan inilah takdir kita, atau mengatakan hanya inilah rezeki yang dikaruniakan Allah SWT kepada kita. Rasa tanggungjawab dan peduli dengan keluarga adalah wujud tingginya nilai EQ yang dimiliki oleh udin, SQ-nya mengarahkan kepada kepasrahan bahwa ada yang lebih berkuasa dari dirinya yaitu Allah SWT, dan KI (Kecerdasan Islami) yang selalu mengingat-ingat Kalamullah berupa pesan-pesan atau nasehat dari ustadznya serta ketulusan do’anya adalah sumber penggerak semua kecerdasan yang ada.

Karier seseorang bukanlah semata-mata respon terhadap suatu kebutuhan bekerja, melainkan berkaitan dengan tujuan luhur yang dipertimbangkan secara matang untuk mencapai kesuksesan. Sukses adalah sebuah perjalanan dan bukan akhir dari suatu perjalanan. Sukses itu 99% sikap mental. Ia menghadirkan cinta, gembira, optimisme, percaya diri, kebanggaan, kebahagiaan, kesetiaan, imajinasi, inisiatif, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, sabar dan semangat mengabdi yang tinggi dalam hidup. Go..! Go..! Spirit of Netpreneur..! 
Komentar