Syamsul dan Nilai Pelajarannya

Satu lagi kisah, yaitu tentang seorang pelajar yang nilainya sangat mengkhawatirkan, katakan namanya Syamsul. Guru dan Kepala Sekolahnya sangat memprihatinkan nilainya, walaupaun sudah diikutsertakan dalam berbagai tambahan pelajaran, namun tetap saja tidak ada kemajuan, nilainya tetap menyedihkan, diapun mersakan hal ini, sehingga secara khusus ia belajar pada seorang mahasiswa jenius dikampungnya, dengan sukarela si jenius ini memberikan bimbingan berbagai pelajaran yang diinginkan, selain itu syamsulpun memperbanyak Ibadah, Dzikir dan Doa-doa kepada Allah SWT, sampai-sampai ia berpuasa senin-kamis. Tibalah saat try out khusus untuk ujian akhir yang bersifat percobaan, namun lagi-lagi hasilnya tetap memprihatinkan, “apalagi upaya yang harus dilakukan..?” begitu gumam syamsul. Dia terus memikirkan sambil duduk-duduk diteras rumahnya, tiba-tiba pak ustadz tetangganya melintas yang hendak menuju ke mesjid, lalu menegur syamsul, “Assalamualaikum.., apa yang sedang kau pikirkan Sul..?, segera syamsul tersadar dan menjawab dengan tergagap-gagap, syamsul menjelaskan perihal masalahnya, saya sedang memikirkan nasib ujian akhir nanti, sebab banyak Guru memprediksikan saya tidak lulus, padahal sekolah saya termasuk sekolah favorit, nama baik sekolah ingin tetap terjaga dengan kelulusan 100%, saya merupakan beban bagi sekolah, apa yang harus saya lakukan pak ustadz,  sembahyang sudah giat saya lakukan dari semenjak kanak-kanak, puasa sudah saya lakukan, dzikir dan perbuatan-perbuatan jelek remaja masa kini sudah saya kurangi, namun tetap tidak ada hailnya ustadz..?, begitu keluh syamsul. Ustadz itu berkata, “kamu beribadah hanya untuk pamrih kelulusan itulah yang salah sul, ibadah itu hanya semata-mata karena Allah SWT dan doa-doa yang aku ajarkan dulu sering-sering kau ulangi agar timbul rasa ketulusan”. Menyadari hal itu, syamsul terasa terlepas dari sebuah beban, ia semakin meningkatkan ibadahnya hanya semata-mata untuk Allah SWT dan mulai lagi mengerjakan doa-doa barokah ilmu dari Allah SWT yang selalu dikumandangkan disetiap selesai sholatnya “Allahuma binuril ilmi, wa sur’atil fahmi, wa akhrijni min dulumatil waftahli abwaaba rahmatika, wa ‘alamani ashroro hikmatika ya Arhamar Rohimin”. Hingga akhirnya syamsul disaat ujianpun ia mengerjakan semua soal tanpa beban, semuanya telah diserahkan kepada Allah SWT.

Upaya syamsul yang IQ-nya (Kecerdasan Intelektual) pas-pasan tidak membuatnya putus asa, kerajinannya menambah pengetahuan adalah wujud kepedulian terhadap sekolahnya, prestasi teman-temannya akan tercoreng dengan ketidaklulusan dirinya, rasa tanggungjawab ini meningkatkan nilai EQ-nya. SQ-nya menangkap bahwa Allah SWT pasti membantu umatnya, maka rajinlah ia beribadah, walaupun peribadatan sudah dilakukan sejak kecil, tetapi disaat seperti ini hampir semua peribadatan wajib dan sunah dilaksanakan dengan intesitas tinggi (Istiqomah). KI-nya (Kecerdasan Islami)  menggerakan dia setelah menyadari kata-kata ustadznya bahwa ketulusan dalam berdoa dan beribadah adalah kunci segala-galanya, ia tidak mengharapkan kelulusan, tetapi semuanya diserahkan kepada Allah SWT. Inilah keikhlasan sejati yang akhirnya membawa syamsul pada kebahagiaan, yaitu disaat pengumuman kelulusan yang dibacakan Kepala Sekolah, syamsul-lah yang pertama kali disalami, karena semua siswa sekolah tersebut dinyatakan lulus 100%, walaupun nilai kelulusan syamsul adalah nilai yang kurang menggembirakan, hanya sedikit diatas ambang batas kelulusan. Namun lebih daripada itu, adalah sebuah kepasrahannya terhadap Allah SWT, sehingga Allah SWT memberikan kebahagiaan tersebut kepada syamsul.