Pasca Wafatnya Rasulullah SAW
Setelah Rasulullah SAW wafat, banyak para tabiin, tabiit dan tabiin tabiit dapat memanfaatkan kecerdasan islami mereka. Umumnya mereka ini disebut sebagai Ulama, hanya saja setelah jauh dari zaman Rasulullah banyak firkoh-firkoh (golongan-golongan dan mazhab) yang menjadikan perbedaan pandangan dalam beragama. Sehingga keturunan merekapun jadi sibuk dengan berbagai perbedaan dan lambat laun lenyaplah nilai-nilai keterampilan untuk memanfaatkan Kecerdasan Islami ini, hingga akhirnya menjadilah kecerdasan ini hanya dipandang sebagai sebuah kesalehan individu. Singkat cerita, bagaimana gambaran kecerdasan islami sebagai buah dari kesalehan, seperti misalnya : “Ada seorang pengusaha sukses di era tahun 1990-an, pengusaha rotan dan berbagai mebel kayu mengalami booming, setelah sukses melakukan penjualan export ke luar negeri, entah kenapa hatinya tergerak untuk memindahkan semua transaksi bisnis dan rekening banknya ke salah satu Bank Syariah terkenal di negeri ini. Bukan karena ia sebagai muslimin yang taat, tetapi karena kesadaran akan berinfak dan sodaqoh yang kurang terarah, sebab sebelumnya mengikuti fasafah bisnis yang murni. Semenjak merintis usaha selalu dilandaskan pada hitungan materi dengan melaksanakan prinsip ekonomi, yaitu : berusaha se-efisien mungkin untuk mendapatkan laba se-maksimal mungkin. Dia merasa ada yang kurang dalam hal resiko bisnis dan tanggungjawab keuangan dari lembaga-lembaga perbankan konvensional (banyaknya Bank yang kolaps, uang nasabahpun juga ikut menguap entah kemana) disamping itu tidak ada yang mengingatkan keharusan untuk bersodaqoh, infaq dan zakat. Bank konvensioanl hanya mencatat tabungan, transaksi bisnis dan hutang serta bunganya saja, sangat berbeda sekali dengan Bank Syariah yang menitik beratkan pada konsep bagi hasil berimbang. Ia menyadari Bank Konvensional mengakibatkan timbulnya rasa kikir, keputusan memindahkan transaksi bisnis ke bank syariah itu, awal mulanya banyak ditentang oleh seluruh koleganya, tetapi dengan sabar pengusaha tersebut menjelaskan bahwa keputusannya tidak akan merubah cara bertransaksi, akhirnya semua koleganya merasa lega. Usaha lancar dan berjalan tujuh tahun, banyak Bank konvensional mulai kolaps dan pada puncaknya terjadi resesi ekonomi di tahun 1998 dengan diikuti hancurnya rezim orde baru di Indonesia, tetapi Bank Syariah aman-aman saja, semua nasabah terlindungi, termasuk pengusaha rotan itu, hingga akhirnya perusahaan miliknya berubah menjadi perusahaan besar.
Bila diamati, keputusan dengan perhitungan cermat tanpa memikirkan keuntungan semata-mata adalah hasil dari IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosi) bekerja disaat harus menjelaskan dengan kesabaran kepada semua kolega dan langgananya, SQ (Kecerdasan Spiritual) bekerja dengan timbulnya kesadaran bahwa semua hasil kekayaanya pasti ada yang mengawasi, yaitu Allah SWT, disamping itu ia ingin diingatkan secara kontinyu atas kewajiban infaq, sodaqoh dan zakat yang harus diilakukannya dan yang bisa melakukan itu hanya di bank syariah. Kecerdasan Islami, meningatkannya harus segera memindahkan rekeningnya untuk dialihkan ke bank syariah yang merupakan naluri akan keselamatan Dunia dan Akhirat, hingga akhirnya terbukti disaat resesi ekonomi, bisnisnya selamat dan berjalan lancar sehingga dapat terus menafkahi karyawan dan keluarga, sudah barang tentu dapat melaksanakan kewajiban zakat, infaq dan sodakohnya.
Incoming search terms:
- firkoh-firkoh di indonesia

Karier seseorang bukanlah semata-mata respon terhadap suatu kebutuhan bekerja, melainkan berkaitan dengan tujuan luhur yang dipertimbangkan secara matang untuk mencapai kesuksesan. Sukses adalah sebuah perjalanan dan bukan akhir dari suatu perjalanan. Sukses itu 99% sikap mental. Ia menghadirkan cinta, gembira, optimisme, percaya diri, kebanggaan, kebahagiaan, kesetiaan, imajinasi, inisiatif, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, sabar dan semangat mengabdi yang tinggi dalam hidup. Go..! Go..! Spirit of Netpreneur..! 
Komentar