Memahami Kecerdasan Islami
Kecerdasan Islami sangatlah berbeda dengan pengertian kecerdasan yang dikenali secara umum, sebab KI ini hanyalah tumbuh dari akumulasi kegiatan beribadah yang tercermin dalam tingkah laku dan perbuatan mulia. Sedangkan kecerdasan secara umum dapat dimiliki siapa saja, baik orang yang tidak beribadah secara istiqomah ataupun tidak beribadah sama sekali, bahkan non muslimpun telah memilikinya. Berlandaskan pengertian ini, hanya orang-orang yang beriman saja yang memiliki kecerdasan islami, tanpa landasan iman, kecerdasan islami akan sulit diraih. Al-Qur’an menjelaskan tentang akal sebanyak 50 kali, suatu pertanda bahwa akal ini adalah salah satu komponen penting dalam kecerdasan. Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang akal ini sebagai sesuatu yang pertama diciptakan oleh Allah SWT, dan telah membuka wawasan para pemikir, bahwa apabila akal tidak diciptakan terlebih dahulu kemudian ditransformasikan kedalam ruh, tentu ruh tidak akan bisa menjawab pertanyaan. Karena jawaban yang tepat, lugas dan santun hanyalah dimiliki oleh mahluk yang telah memiliki akal. Allah SWT-Pun tidak akan menyelenggarakan dialog apabila sang ruh belum terformulasi dengan akal, sebagaimana yang terdapat pada Al-Qur’an Surat Al-A’raf Ayat 172 “Bukankah Aku ini Tuhanmu..? Benar (Engkau Tuhan Kami) kami bersaksi”. Selanjutnya, akal tersebut terbawa disaat peniupan ruh sebagaimana diisyaratkan dalam ayat sebagai berikut : “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya ruh (Ciptaan-Nya) dan dia telah menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetap) kamu sedikit sekali bersyukur” (QS As-Sajadah). Dua proses tersebut menunjukan adanya potensi Kecerdasan Islami, dialog ruh merupakan suatu ujian kecerdasan ruhiyah, yang ternyata mampu dijawab dengan baik, apabila ruh tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, itu berarti semua umat muslim tidaklah memiliki potensi Kecerdasan ISlami. Pada proses peniupan ruh, sebenarnya telah terjadi transfer sifat-sifat Ilahiyah, dimana dalam hembusan itu terbawalah sifat-sifat Allah SWT dengan kadar yang sangat minim, karena semua kesempurnaan adalah milik-Nya, semua yang serba Maha hanyalah milik-Nya, manusia memiliki sebagian kecil dari sifat-sifat itu, diantaranya manusia dapat mengetahui sesuatu, sedangkan Allah SWT yang Maha Mengetahui (Al-’Aliim), manusia diberi kemampuan menyayangi dan mengasihi, sedangkan Allah SWT Maha Penyayang (Ar-Rahim) dan Maha Pengasih (Ar-Rahman) serta sifat-sifat lainnya yang termaktub dalam “Asma’ul Husna”. Manusia memiliki sebatas fitrah yang berupa potensi atau bekal yang harus ditumbuh kembangkan. Kecerdasan Islami memungkinkan manusia dapat mengembangkan fitrah yang telah dianugrahkan oleh Allah SWT, menjadi sebuah kemampuan untuk berakhlak mulia melalui sifat-sifat Ketuhanan tersebut. Aspek materi/fisik/jasad hanyalah sebagai pendukung, bukan pendorong kecerdasan tersebut, jadi apabila ahli-ahli psikologi memandang bahwa kecerdasan berawal dari otak yang bersifat materi, berarti telah terjebak dalam faham materialistik, sebuah faham yang mendahulukan analisis materi daripada non materi. Kecerdasan Islami yang berasal dari dua proses (Dialog ruh dan Peniupan ruh) merupakan pembangkit fitrah manusia. Perspektif Kecerdasan Islami dalam proses penciptaan manusia pertama yang terjadi adalah :
- Allah SWT telah menciptakan dan mempersiapkan segala komponen kebutuhan mahluk yang bernama manusia, terdiri dari Al-Aql, Ar-Ruh dan Jasad dengan segala potensinya yang disebut Al-Fitrah.
- Selanjutnya terjadilah transformasi akal kedalam ruh.
- Allah SWT menganugrahkan Al-Fitrah kepada Jasad, sebagaimana tercantum dalam (QS Ar-Rum : 30).
- Terjadi dialog ruh (QS Al-A’raf : 172)
- Selanjutnya proses peniupan ruh kedalam Jasad (QS As-Sajadah : 9).
- Maka jadilah manusia sebagai mahluk yang sempurna (QS At-Tin : 5) dan yang paling mulia (QS Al-Isra’ : 70).
- Terjadi aktifasi akal dan qolbu sebagai komponen utama Kecerdasan Islami (QS As-Sajadah : 9).
- Allah SWT memberikan amanahnya kepada manusia (QS Al-Ahzab : 72) sebagai Abdullah (QS Adz-Dzariyat : 56) dan sebgai Khalifatullah (QS Al-Fathir : 39).
- Kecerdasan Islami mendorong aktifitas komponen-komponen kecerdasan lainnya, seperti unsur non fisik (Fitrah, Amanatullah) dan unsur materi (Otak, Alat-alat gerak, semua organ tubuh dan panca indera) hingga membentuk Akhlakul Karimah.
Dengan demikian jelaslah, bahwa KI berperan setelah jasad menemukan bentuk kesempurnaannya, sehingga dapat menggerakan semua aktifitas komponen penghasil KI. Ada sebuah text islami yang dikenal sebagai aktivasi organ-organ penghasil kecerdasan yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, menyebutkan prosesi perjalanan ruh dari alam arwah menuju alam jasad (tubuh manusia) : “Ruh dihembuskan disekitar otak selama 200 Tahun, setelah itu turun ke mata, maka manusia segera dapat melihat dirinya sendiri dan melihat kepada lempung (tanah berair) yang ada dibawah. Terus turun pada kedua telinganya, maka terdengarlah tasbih para malaikat. Selanjutnya turun kepada hidung sehingga ia bersin dan terus turun ke mulut, maka Allah SWT mengajarkan kepada Nabiyullah Adam AS supaya menyebut “Alhamdulillah” dan Allah SWT menjawabnya dengan “Yarhamuka Rabbuka Ya Adam”. Ruh turun ke dada, disini Nabi Adam AS tergesa-gesa berdiri, tapi tak kuasa, disaat itulah Allah SWT berfirman “Dan manusia adalah tergesa-gesa” (QS Al-Israa : 11). Ruh terus berjalan sampai perut, maka Nabi Adam-Pun meninginkan makanan, selanjutnya ruh merata keseluruh tubuh bersatu dengan daging, darah, kulit dan otot. Kesempurnaan ini menjadikan ruh terurai menjadi Jiwa (Nafs).
Sedangkan bentuk asal ruh tetap ada didalam Jiwa. Kejadian ini menimbulkan inspirasi bagi orang-orang pengembang tekhnologi, utamanya tekhnologi komputer. Tekhnologi ini terinspirasi oleh proses penguraian ruh. Coba kita perhatikan “Windows” sebagai operating system, ketika software tersebut di Install ke sebuah Hard Disk, maka terurailah semua file-file yang ada pada aslinya/source, sambil melakukan autodetec/memeriksa kesesuaian peralatan (Hardware) yang terpasang (sama seperti proses ruh mengenali organ mata, hidung, telinga dan lain-lainnya), sementara source program juga dicopy-kan ke Hard Disk (Master Windows) sama halnya seperti ruh asli tetap ada didalam tubuh yang terurai menjadi jiwa. Master digunakan sebagai cadangan bila diperlukan Instalasi kembali (Re-Install) atau menghapus yang sudah di Install (Un-Install). Demikian pula ruh yang berkembang menjadi jiwa, perlu disegarkan kembali dengan metode Tazkiyatun Nafs, maka diperlukan Re-Install. Bila ruh dicabut dan dikembalikan kepada Sang Pencipta, maka dilakukan proses Un-Install.
Berdasarkan analogi Instalasi Operating System dalam Komputer, tentu memudahkan kita memahami teks diatas sehingga secara logis kita dapat menerima informasi teks tersebut. Adalah tidak berperasaan, jika tekhnologi sekuler yang kita gunakan selama ini dengan mudahnya kita terima dan kita imani keadaannya, sementara teks islami yang sama tujuannya justru kita tolak keabsahannya. Wallahualam Bisawaf, saya mohon maaf jika ada salah dan janggal atas penulisan artikel ini…
Semoga artikel yang mengandung 2 konten sebagai pesan khusus, yaitu ; Proses transformasi ruh dan Proses Instalasi Software Windows ini menjadi sebuah Inspirasi bagi para pengembang tekhnologi komputer Indonesia untuk membuat sebuah karya Asli Orang Indonesia.
Incoming search terms:
- kecerdasan islami
- ruh dan jasad
- kecerdasan secara islami
- peniupan ruh kecerdasan manusia
- peniupan ruh dalam al quran
- peniupan ruh kedalam manusia
- al aql ar ruh
- peniupan ruh menurut al qur\an
- peniupan ruh nenurut al-quran
- penjelasan roh penglihatan pendengaran hati as sajdah


Karier seseorang bukanlah semata-mata respon terhadap suatu kebutuhan bekerja, melainkan berkaitan dengan tujuan luhur yang dipertimbangkan secara matang untuk mencapai kesuksesan. Sukses adalah sebuah perjalanan dan bukan akhir dari suatu perjalanan. Sukses itu 99% sikap mental. Ia menghadirkan cinta, gembira, optimisme, percaya diri, kebanggaan, kebahagiaan, kesetiaan, imajinasi, inisiatif, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, sabar dan semangat mengabdi yang tinggi dalam hidup. Go..! Go..! Spirit of Netpreneur..! 
Satu pengetahuan lagi yang kudapat. Thanks ya….
Terima Kasih, artikel bagus nih…